Home / Artikel / Technologies / WhatsApp, Raksasa Dunia yang Ditolak China

WhatsApp, Raksasa Dunia yang Ditolak China


WhatsApp, Raksasa Dunia yang Ditolak China

WhatsApp adalah layanan messaging terbesar di dunia. Bayangkan saja, jumlah pengguna aktif terakhirnya mencapai 1 miliar. Itu menurut data Facebook, sang induk perusahaan.

Popularitas WhatsApp seakan menenggelamkan layanan sejenis yang lain, misalnya BlackBerry Messenger (BBM) yang sempat berjaya pada masanya.

Memang sejak berdirinya di tahun 2009 sampai sekarang, WhatsApp seakan tak terbendung karena kemudahan penggunaan, keamanannya, dan juga bebas iklan.

Seperti diketahui, WhatsApp didirikan oleh duet Jan Koum yang sekarang menjabat CEO bersama sahabatnya, Brian Acton.

Berkali-kali kisah hidup Koum diceritakan karena memang menginspirasi, dia lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Ukraina, sebuah negara di Eropa Timur yang saat ini dilanda prahara politik.

Tahun 1990 ketika Koum berusia 16 tahun, ia dan sang ibu berimigrasi ke Mountain View, Amerika Serikat. Langkah ini dipandang paling aman karena gejolak politik dan gerakan anti Yahudi makin besar di Ukraina.

Ayahnya berencana segera menyusul, namun sayangnya tidak pernah kesampaian. Ia meninggal dunia di tahun 1997.

Di Amerika Serikat, keadaan Koum dan ibunya tidak serta-merta membaik. Mereka masih hidup kekurangan. Ibunya bekerja sebagai pengasuh bayi dan Koum kadang menyapu toko untuk mendapat upah.

Begitu miskinnya mereka sehingga harus hidup dengan makanan subsidi pemerintah. Mereka tinggal di apartemen dengan dua kamar tidur yang juga dibiayai pemerintah AS. Cobaan kembali datang setelah ibu Koum didiagnosa menderita kanker. Sang ibu akhirnya meninggal dunia di tahun 2000.

Kelahiran WhatsApp

Tapi beruntung, Koum dianugerahi otak yang pintar. Dia diterima di Yahoo di mana saat itulah, Koum bertemu dengan Acton. September 2007 dengan berbagai pertimbangan, Koum dan Acton sepakat meninggalkan Yahoo. Selama setahun, mereka bersenang senang dan berwisata ke Amerika Selatan.

Pada 24 Februari 2009, Koum mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California. Saat itu, layanan messaging populer yang menjadi pesaing hanya BlackBerry Messenger (BBM), namun kelemahannya terbatas hanya bisa digunakan di BlackBerry.

Potensi WhatsApp membuat Acton semakin tertarik. Ia berhasil menarik pendanaan dari lima orang mantan karyawan Yahoo senilai USD 250 ribu.

Acton pun bergabung secara resmi dan bersama Koum, mereka memiliki saham WhatsApp sampai 60%. WhatsApp pun kemudian dibuat untuk bermacam platform populer termasuk iPhone, Android dan BlackBerry.

Desember 2009, WhatsApp untuk iPhone bisa dipakai untuk mengirim foto. Kemudian semenjak itu, pertumbuhan user WhatsApp tak terbendung. Awal tahun 2011, WhatsApp sudah masuk top 20 aplikasi di App Store Amerika Serikat.

Potensi WhatsApp yang luar bisa membuat Facebook dan Google berebut meminangnya. Akhirnya, para pendiri WhatsApp setuju dibeli Facebook senilai USD 19 miliar.

Ditolak China

Tapi tak semua wilayah dapat ditaklukkan WhatsApp sekalipun sudah ada Facebook sebagai pendukung yang sangat kuat. WhatsApp baru saja diblokir sepenuhnya di China. Setelah tak bisa berkirim foto dan video, kini layanan messaging milik Facebook itu pun tak lagi bisa berkirim pesan teks.

Pemblokiran terhadap WhatsApp ini dilakukan setelah pemerintah China meningkatkan sistem firewall mereka untuk menerapkan kebijakan sensor dan proteksi yang ketat.

Dengan demikian, Facebook pun benar-benar dibuat mati kutu. Pasalnya, WhatsApp adalah layanan terakhir milik mereka yang mampu menembus tembok China setelah Facebook diblokir sejak 2009 lalu. Instagram pun demikian.

Memang tidak ada kesulitan berarti bagi China mengenyahkan WhatsApp dari negaranya. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu ini tidak memiliki ketergantungan besar terhadap WhatsApp karena punya aplikasi chat sendiri yang lebih berjaya di negerinya.

WeChat, nama aplikasi chat tersebut, kepopulerannya di China melebihi WhatsApp. Sebagai aplikasi chat nomor satu di China, layanan yang dikembangkan oleh Tencent ini seolah sudah menjadi bagian dari keseharian pengguna smartphone China.

Dengan beragamnya layanan yang disediakan WeChat, aplikasi ini tak hanya digunakan warga lokal untuk chat, melainkan juga untuk bermedia sosial, belanja online, bermain game, mengakses berita dan hiburan, sampai melakukan pembayaran non tunai.

WeChat saat ini adalah salah satu aplikasi pesan instant dengan pengguna aktif bulanan terbesar di dunia. Sejak dirilis pada 2011, WeChat kini punya lebih dari 963 juta pengguna aktif setiap bulannya.

 

Sumber: detik.com



Berita Terbaruberita terbaru lainnya

Gerbang Tol Kertasari Tegal Macet

access_time13 Juni 2018 12:43:56

Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Makin Banyak Anak, Benarkah Gigi Ibu Jadi Lebih Sedikit?

access_time 13 Juni 2018 12:26:13 folder_open 39

Wow, Peneliti Sebut Daun Teh Bermanfaat untuk Cegah Kanker Paru

access_time 28 Mei 2018 14:24:51 folder_open 58

Tren Unik Tanam Perhiasan di Bola Mata

access_time 28 Mei 2018 14:02:44 folder_open 67




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu