Home / Artikel / Misteri / Gempa Bumi, Mungkinkah Diprediksi?

Gempa Bumi, Mungkinkah Diprediksi?


Gempa Bumi, Mungkinkah Diprediksi?

KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring (online) menjelaskan istilah gempa bumi dengan sebutan gempa yang didefinisikan sebagai guncangan atau gerakan. Lebih lanjut diistilahkan bahwa getaran tersebut berupa gerakan bergelombang pada kulit bumi yang ditimbulkan oleh tenaga asal dalam bumi.

KBBI memilah istilah gempa dalam dua jenis, yaitu (1) gempa tektonik, gempa yang berhubungan dengan (disebabkan oleh) pergeseran tanah atau dengan kata lain dapat juga diartikan sebagai pergeseran struktur batuan di bawah permukaan tanah akibat adanya aktivitas tektonik, (2) gempa vulkanik yaitu gempa yang diakibatkan oleh adanya aktivitas gunung berapi.

Indonesia adalah bagian dari negara yang memiliki potensi bahaya gempa bumi yang tinggi. Sebaran lokasi gempa bumi dengan magnitudo lebih besar dari 5 yang pernah terjadi di Indonesia diperlihatkan pada gambar 1, data hiposenter berdasarkan katalog USGS tahun 1976-2016.

Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang berada pada zona pertemuan empat lembang tektonik dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik dan Filipina.

Dalam catatan sejarah, banyak kejadian gempa bumi di Indonesia dan beberapa gempa bumi yang merusak dan mengakibatkan gelombang tsunami. Seperti Gempa Aceh 2004 (M 9,2) yang membangkitkan gelombang tsunami dan mengakibatkan korban lebih dari 120 ribu jiwa

Gambar di atas menunjukkan sebaran kejadian gempa bumi di Indonesia dengan megnitudo lebih besar dari 5 sejak 1976 - 2016 berdasarkan data katalog USGS. Degradasi warna lingkaran merah - biru menunjukkan kedalaman posisi sumber gempa bumi (hiposenter).

Setelah kejadian gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, kepedulian masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap bencana meningkat. Kepedulian itu tidak hanya gempa bumi akan tetapi beberapa bencana yang lainnya, seperti letusan gunung berapi, longsor dan banjir.

Kepedulian ini diwujudkan dengan lahirnya Undang-Undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai salah satu pelaksanaan dari amanat undang-undang tersebut.

Artinya, Indonesia tidak hanya fokus pada penyaluran bantuan pada saat tanggap darurat, artinya juga fokus pada langkah pengurangan risiko bencana.

Setiap gempa bumi yang terjadi dengan magnitudo lebih besar dari 6,5 hampir selalu memberikan dampak kerusakan pada bangunan dan infrastruktur. Tidak jarang dari kejadian itu menimbulkan korban jiwa baik luka maupun meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Jika kejadian gempa bumi bisa diketahui kejadiannya, maka besar kemungkinan korban jiwa bisa terhindarkan. Pertanyaan "mungkinkah gempa bumi diprediksi?”, adalah salah satu hal yang menarik untuk dicarikan jawabannya.

Prediksi gempa bumi

Dalam seismologi, prediksi gempa bumi merupakan bagian dari cabang ilmu yang berkaitan dengan spesifikasi dari waktu, lokasi, dan besarnya energi (magnitudo) yang terjadi pada masa depan dalam batas waktu yang ditentukan.

Terutama pada penentuan parameter gempa bumi yang akan terjadi pada suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu secara rinci adan akurat.

Dalam hal ini tentu perlu dibedakan antara earthquake prediction dan earthquake forecasting. Earthquake forecasting dapat didefisikan sebagai penilaian bahaya gempa secara probabilistik maupun deterministik.

Penilaian dilakukan berdasarkan data sejarah kejadian gempa bumi pada masa lalu, sehingga memungkinkan untuk memperkirakan kemungkinan perulangan kejadiannya di suatu wilayah tertentu dalam orde bertahun-tahun atau dekade.

Tahun 1974 terjadi gempa di Haicheng, China, dengan magnitudo M 7,3. Kejadian gempa bumi ini banyak dirujuk sebagai keberhasilan dalam prediksi gempa bumi.

Prediksi gempa bumi di Haicheng dilakukan berdasarkan studi aktivitas seismik. Hasil studi aktivitas seismik menjadi acuan bagi Pemerintah China mengeluarkan prediksi gempa bumi akan terjadi pada Juni 1974 tanpa menyebutkan jam, menit secara rinci.

Masyarakat dipaksa siaga dan harus mengungsi. Gempa Haicheng terjadi pada pukul 19.36 dengan cukup kuat dan menghancurkan serta merusak sebagian bagunan rumah. Kejadian tersebut mengakibatkan 300 orang korban jiwa.

Jackson dan Kagan, dalam makalah ilmiahnya berjudul The 2004 Parkfield Earthquake, the 1985 Prediction, and Characteristic Earthquakes: Lessons for the Future yang dipublikasikan pada Bulletin of the Seismological Society of America, Vol. 96, No. 4B, pp. S397–S409, September 2006 menceritakan tentang prediksi gempa bumi yang dilakukan oleh The National Earthquake Prediction Evaluation Council (NEPEC) Tahun 1985.

NEPEC merupakan sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun 1980 di Amerika Serikat yang fungsinya untuk memberikan saran dan rekomendasi kepada Direktur USGS tentang prediksi gempa bumi dan penelitian ilmiah terkait.

NEPEC mengeluarkan pernyaataan bahwa kemungkinan akan terjadi gempa bumi dengan magnitudo sekitar 6,0 sebelum tahun 1993 di Parkfield bagian dekat dari Sesar San Adreas, California.

Pernyataan ini sebagian besar didasarkan pada perulangan kejadian gempa serupa pada tahun 1881, 1901, 1922, 1934 dan 1966. Jackson dan Kagan menjelaskan gempa bumi tersebut tidak terjadi di Parkfield, dan menjadi pembelajaran untuk meninjau kembali parameter dan karakteristik yang digunakan dalam prediksi gempa bumi.

Contoh prediksi gempa bumi di atas memberikan gambaran bahwa usaha untuk memprediksi gempa bumi masih butuh kerja yang tidak sederhana dan perjalanannya yang masih panjang.

Secara ilmu pengetahuan, prediksi gempa secara akurat belum menghasilkan sesuatu yang menggembirakan.

Dalam buku Predicting Earthquake: A Scientific and Technical Evaluation with Implications for Society menjelaskan bahwa penelitian-penelitian dengan tujuan prediksi gempa fokus pada metode prediksi analis empiris dengan menggunakan dua pendekatan umum, yaitu (1) mengedentifikasis karekateristik precursor dari gempa bumi, (2) mengidentifikasikan beberapa jenis kecenderungan dalam geofisika atau pola seismisitas yang mungkin terjadi sebelum gempa besar datang.

Beberapa bulan terakhir beredar pemberitaan terkait dengan prediksi gempa mahadahsyat yang akan melanda Indonesia. Kekuatan gempanya bisa mencapai magitudo 9,5, demikian menurut pernyataan Profesor Ron Haris seorang peneliti dan pakar geologi dari Brigham Young University.

Pernyaatan ini berdasarkan penelitian paleotsunami yang dilakukannya di sepanjang pantai selatan Jawa. Penelitiannya memerikan informasi tentang adanya deposit sisa tsunami purba yang ditemukan di sepanjang pantai selatan Jawa.

Hal ini menandakan bahwa zaman dulu pernah terjadi gempa dahsyat dan membangkitkan gelombang tsunami. Gempa bumi tersebut berpeluang untuk terulang kembali, akan tetapi penjelasan kapan dan dimana tempatnya secara lebih rinci masih tanda tanya besar.

Kecenderungan penelitian-penelitian kegempaan yang bekembang saat ini adalah lebih fokus pada penemuan dan pemetaan sumber gempa bumi serta memahami karakteristiknya dengan lebih baik.

Pemahaman yang baik terhadap sumber gempa bumi akan menjadi masukan penting dalam penyusunan peta bahaya gempa bumi. Tentunya, peta tersebut menjadi acuan untuk mitigasi dan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana akibat gempa bumi

 

Sumber: kompas.com



Berita Terbaruberita terbaru lainnya

Gerbang Tol Kertasari Tegal Macet

access_time13 Juni 2018 12:43:56

Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Makin Banyak Anak, Benarkah Gigi Ibu Jadi Lebih Sedikit?

access_time 13 Juni 2018 12:26:13 folder_open 39

Wow, Peneliti Sebut Daun Teh Bermanfaat untuk Cegah Kanker Paru

access_time 28 Mei 2018 14:24:51 folder_open 58

Tren Unik Tanam Perhiasan di Bola Mata

access_time 28 Mei 2018 14:02:44 folder_open 64




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu