Home / Artikel / Campur-Campur / Berapa Banyak Uang yang Dibutuhkan untuk Bahagia? Sains Menjawabnya

Berapa Banyak Uang yang Dibutuhkan untuk Bahagia? Sains Menjawabnya


Berapa Banyak Uang yang Dibutuhkan untuk Bahagia? Sains Menjawabnya

Kebahagiaan tidak diukur dengan uang. Pendapat tersebut selalu diungkapkan untuk menilai kebahagiaan.

Meski begitu, pendapat ini bisa dibilang tak selalu benar. Itu karena banyak kebutuhan harus dibeli menggunakan uang.

Sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada jumlah tahunan ideal yang bisa membuat kita secara emosional. Tak hanya itu, penelitian ini juga mengatakan bahwa terlalu banyak uang justru akan membuat kita mulai merasa tidak bahagia.

"Itu mungkin cukup mengejutkan karena seperti iklan di televisi dan iklan mengatakan kepada kita secara tak langsung bahwa tidak ada batasan berapa banyak yang kita butuhkan untuk kebahagiaan, tapi kita sekarang melihat ada beberapa batasan," ungkap Andrew T Jebb dari Purdue University, AS dikutip dari Science Alert, Rabu (14/02/2018).

Untuk menpadat temuannya tersebut, Jebb dan timnya menganalisis data dari Gallup World Poll. Gallup World Poll sendiri merupakan sebuah survei internasional terhadap lebih dari 1,7 juta orang dari 164 negara.

Ketika para peneliti memeriksa tanggapan peserta terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan kepuasan dan kesejahteraan hidup, mereka menemukan nominal yang diinginkan seseorang.

Hanya saja, angka tersebut berbeda-beda di setiap negara.

"Kami menemukan bahwa titik pendapatan ideal adalah sekitar 1,3 miliar rupiah pertahun untuk keseluruhan kepuasan hidup dan sekitar 800 juta hingga 1 miliar rupiah per tahun untuk kesejahteraan emosional (kebahagiaan sehari-hari)," ungkap Jebb.

"Sekali lagi, jumlah ini untuk individu dan kemungkinan akan lebih tinggi untuk keluarga," imbuhnya.

Tentu saja, angka tersebut lebih tinggi secara signifikan di sejumlah negara. Apalagi, kekayaan setiap negara berbeda-beda.

Dengan kata lain, hasil ini masih sangat bergantung kepada seberapa kaya setiap negara secara komparatif.

Penelitian ini menemukan tingkat kepuasan hidup di Australia sekitar 1,7 miliar per tahun, di Amerika Utara sekitar 1,4 miliar pertahun, dan di Eropa Barat 1,3 miliar per tahun. Hasil lebih kecil ditunjukkan di negara-negara Asia Tenggara, Eropa Timur, dan Amerika Latin.

Di Asia Tenggara, orang rata-rata menginginkan pendapatan sebesar 953 juta rupiah per tahun. Orang di Eropa Timur memiliki kepuasan hidup jika mendapatkan pendapatan sekitar 613 juta per tahun.

Di Amerika Latin, orang-orang memiliki kepuasan hidup berikisar 476 juta rupiah per tahun.

Selain itu, tingkat kepuasan pendapatan ini juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan pendidikan.

Wanita biasanya menginginkan pendapatan per tahun yang lebih tinggi. Orang yang memiliki pendidikan tinggi juga menunjukkan kecenderungan serupa.

Namun yang paling menarik dari penelitian ini adalah bagaimana pendapatan yang terlalu besar malah membuat seseorang tidak bahagia.

"Fenomena lain yang penting dalam data kami adalah adanya titik balik di mana tingkat pendapatan yang melampaui kepuasan hidup malah memperlihatkan penurunan yang konsisten dalam kebahagiaan," tulis laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behavior ini.

"Telah diperkirakan beberapa waktu lalu bahwa pendapatan yang sangat tinggi menyebabkan pengurangan kesejahteraan emosional," sambungnya.

Para peneliti telah mendeteksi fenomena ini dalam hasil temuan mereka. Tapi, mereka mencatat bahwa hal ini telihat dalam kepuasan hidup bukan kesejahteraan emosional.

Di samping itu, penurunan kesejahteraan emosional ini hanya terbatas pada lima dari 9 wilayah penelitian ini, yaitu Skandinavia (Eropa Barat), Balkan (Eropa Timur), Asia Timus, Karibia (Amerika Latin), dan Amerika Utara.

Sayangnya, pola penurunan kebahagiaan ini tidak diketahui pasti oleh para peneliti. Tapi mereka menduga bahwa hal ini terkait erat dengan tuntutan yang makin banyak ketika memiliki pendapatan yang lebih besar.

"Secara teoretis, mungkin bukan pendapatan yang lebih tinggi yang mendorong penurunan kesejahteraan emosional, tapi biaya yang terkait dengan pendapatan ini," tulis para peneliti.

"Pendapatan tinggi biasanya disertai dengan tuntutan (waktu, beban kerja, tanggung jawab, dan berbagai hal lain yang ikut meninggi) yang mungkin membatasi kesempatan untuk pengalaman yang baik (seperti santai atau berlibut," imbuhnya.

Jika hipotesis ini benar, maka hal ini menegaskan bahwa uang hanya dapat membeli kebahagiaan jika Anda memiliki waktu luang untuk menikmatinya.

Dengan kata lain, uang tidak benar-benar membeli kebahagiaan.

 

Sumber: kompas.com



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Sakit Tengorokan? Racik 5 Minuman Herbal Ini untuk Mengatasinya

access_time 08 Agustus 2018 09:18:26 folder_open 124

Peegasm, Kenikmatan Setelah Menahan Pipis yang Ternyata Berbahaya

access_time 08 Agustus 2018 09:06:09 folder_open 223

Habis Makan Siang Jangan Langsung Tidur, 4 Hal Ini Mengintai

access_time 06 Agustus 2018 12:35:15 folder_open 175




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu