Home / News / Nasional / Usaha DVD Bajakan di Cirebon Mendadak Jadi Sorotan

Usaha DVD Bajakan di Cirebon Mendadak Jadi Sorotan


Usaha DVD Bajakan di Cirebon Mendadak Jadi Sorotan

Temuan kaset bajakan film Dilan 1990 mencuat di Cirebon. Setelah adanya laporan dari produser Max Picture ke kepolisian. Fenomena kaset bajakan sebenarnya isu lama, yang hampir banyak ditemuakan di berbagai daerah. Lalu bagaimana keuntungan penjualan kaset bajakan baik bentuk DVD maupun VCD, hingga bisnis ini tak bisa diputus mata rantainya?

KEPINGAN kaset yang sudah dikemas berjejer di lapak milik Munar, pedagang kaset bajakan di bilangan Jalan Lemahwungkuk. Di pinggir jalan tersebut setidaknya ada tiga pedagang yang menjajakan kaset. Dua pedagang menjual kaset berbentuk DVD dan VCD. Sementara satu pedagang lainnya, memnjual kaset klasik pemutar lagu berbentuk pita.  “Saya sudah jualan 15 tahun, habis lulus SMA langsung jualan kaset,” ucap pria 32 tahun tersebut, saat dijumpai Radar.

Sejauh ini, dirinya tak memiliki permasalahan dengan pihak aparat. Meski barang yang dijualnya tersebut melanggar hak cipta. Ada berbagai macam kaset yang dijual. Mulai dari film-film Indonesia, film Hollywood, Bollywood, lagu-lagu, dan juga video klip musik lengkap. Tapi, yang paling laris dibeli adalah lagu-lagu tarling. “Kalau yang laris bergantung tempat, kalau di sini larisnya kaset lagu-lagu tarling,” katanya.

Kaset tersebut dijual bervariasi. Untuk kaset berbentuk compact disk yang berisi lagu-lagu MP3 harganya Rp5 ribu per keping. Sedangkan untuk kaset berbentuk DVD yang berisi lagu-lagu berformat MP4 yang ada videonya, harga per keping Rp8 ribu. Sedangkan untuk DVD yang berisi film, lebih murah Rp6 ribu.

Dari penjualan itu, Munar mengaku mendapatkan keuntungan 100 persen per keping. Misalnya harga kaset Rp5 ribu per keping, dia bisa mendapatkan untung Rp2.500 per keping. “Untungnya lumayan,” kata Munar menegaskan.

Setiap hari, rata-rata Munar mendapatkan Omzet sebesar Rp200 ribu. Apabila ramai pembeli, omzet bisa naik Rp300 ribu. Bisa dihitung, setiap hari Munar mendapatkan keuntungan bersih Rp100 ribu, bila dia mendapat omset Rp200 ribu. “Kalau ramai biasanya saat weekend,” ucapnya.

Pendapatan itu, cukup baginya untuk biaya hidup sehari-hari. Dirinya tak punya pilihan lain. Apalagi soal hak cipta dan masalah pembajakan yang belakangan ini gencar diperangi pemerintah. “Saya hanya bisnis ini mas, gak ada bisnis lain,” katanya.

Di Kota Cirebon sendiri, paling ramai penjualan kaset di Pasar Balong. Namun sekarang setelah pasar balon direnovasi, pedagang pindah ke Cirebon Mall dan Kawasan BAT. Munar sendiri mengaku mendapatkan barang-barang kaset itu dari Cirebon. Stoknya banyak juga di Cirebon. Sehingga dirinya tak perlu lagi ke luar kota untuk belanja. “Kalau stok di Cirebon juga banyak, dulu pernah ke Glodok, tapi berat sama ongkosnya kalau tidak belanja banyak,” katanya.

Mayoritas kaset bajakan tersebut, kata dia, kebanyakan dari Glodok. Tapi sekarang, tak pernah mengambil lagi barang dari Glodok. Produksinya sudah banyak di Cirebon. Berbeda halnya dengan Yudi, salah soerang pedagang kaset bajakan lainnya. Awalnya dirinya membuka usaha tersebut dengan modal kecil. Kemudian lama-kelamaan bertambah. Harga kaset sendiri sudah sejak tahun 2005, tidak mengalami kenaikan. “Ya kalau keuntungan besar dulu, dengan harga segitu, kita bisa untung besar. Tapi sekarang kan harganya sama, keuntungan sedikit kurang,” katanya.

Meski mengetahui DVD yang dijual bajakan, namun Yudi tak paham soal aturan yang dilanggar. Soal hak cipta? Yudi maupun Munar sama sekali tak mengerti.

Seperti diketahui, Produser rumah produksi Max Pictures Ody Mulya Hidayat langsung membuat laporan kepada pihak berwajib setelah ia menemukan fakta bahwa film Dilan 1990 dibajak meskipun masih tayang di sejumlah bioskop di Indonesia. DVD bajakan film Dilan sudah bisa ditemukan di toko-toko di Kota Cirebon.

Seketika, para penjual DVD bajakan khususnya yang menjual di pertokoan menutup usahanya sejak sepakan terakhir. Pusat penjualan DVD yang dikunjungi koran ini di Jl Tentara Pelajar, tak satupun yang membuka rukonya. Namun, berbeda dengan para penjual di pinggir jalan. Mereka tetap membuka lapaknya dan berjualan seperti biasa.

 

Sumber: radarcirebon.com



Berita Terbaruberita terbaru lainnya

Gerbang Tol Kertasari Tegal Macet

access_time13 Juni 2018 12:43:56

Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Makin Banyak Anak, Benarkah Gigi Ibu Jadi Lebih Sedikit?

access_time 13 Juni 2018 12:26:13 folder_open 34

Wow, Peneliti Sebut Daun Teh Bermanfaat untuk Cegah Kanker Paru

access_time 28 Mei 2018 14:24:51 folder_open 52

Tren Unik Tanam Perhiasan di Bola Mata

access_time 28 Mei 2018 14:02:44 folder_open 60




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu