Home / News / Teknologi / DPR Minta FB Polisikan Dr Kogan

DPR Minta FB Polisikan Dr Kogan


DPR Minta FB Polisikan Dr Kogan

JAKARTAFacebook (FB) akhirnya memenuhi panggilan DPR kemarin. Dalam rapat terbuka itu, Facebook diminta memperkuat aturan perlindungan data pengguna dengan menambahkan sistem sanksi.

Facebook diwakili Vice President of Public Policy Facebook Asia-Pacific Simon Miller. Dia didampingi Kepala Kebijakan Facebook Indonesia, Ruben Hattari.

Dalam laporan awal yang dibacakan Ruben, Facebook menjelaskan kronologi kebocoran data jutaan pengguna ke lembaga konsultan politik Cambridge Analytica sejak 2013. Saat itu, seorang peneliti dari Cambridge University yang bernama Dr Aleksandr Kogan membuat sebuah kuis kepribadian dalam aplikasi This is Your Digital Life.

Kuis itu meminta sekitar 300 ribu orang peng-instal-nya untuk membagikan data pribadi mereka dan beberapa data teman mereka. “Tapi, Kogan bukan karyawan Facebook dan tidak ada kaitannya dengan kami,” jelas Ruben.

Pada 2015, Facebook menerima informasi bahwa Kogan telah memberikan data tersebut kepada Cambridge Analytica. Aplikasi Kogan pun ditutup. Facebook segera meminta Kogan dan Cambridge Analytica untuk menghapus data yang mereka miliki.

Namun, kemudian diketahui bahwa Cambridge Analytica tak melakukannya. Mereka menggunakan data tersebut untuk kepentingan pemilu. “Pemilu yang mana dan berapa kali, kami belum tahu,” kata Ruben.

Dengan demikian, lanjut dia, insiden itu bukan semata kebocoran data akibat diretasnya sistem keamanan Facebook. “Tapi lebih pada pengkhianatan Dr Kogan atas kepercayaan kami,” ungkapnya.

Facebook menerima banyak kritik dari anggota DPR soal penerapan sanksi terhadap Cambridge Analytica. Dalam aturan dasar platform policy, tak disebutkan mekanisme sanksi yang jelas jika ada kasus semacam itu.

“Di sini hanya tertulis, bagi yang memiliki data untuk dihapus. Tapi, seperti itu saja, sifatnya imbauan,” ungkap anggota Komisi I DPR, Satya Widya Yudha.

Selain itu, Yudha mempertanyakan masih bebasnya Kogan dengan pelanggaran seberat itu. Dia meminta Facebook mengadukan Kogan ke polisi. “Ini pelanggaran terdeteksi sejak 2014, sampai sekarang dia masih bebas. Seharusnya dia ada di penjara,” tegasnya.

Simon menjawab, Facebook sebenarnya telah mengambil langkah hukum. Investigasi juga tengah dilakukan. Namun, mereka diminta menghentikan penyelidikan sementara karena otoritas komisi informasi Inggris juga sedang melakukan penyelidikan.

“Cambridge ada di Inggris. Dr Kogan juga di Inggris. Jadi, kami harus patuh pada peraturan di sana,” jelas Simon.

Meski demikian, Simon berjanji, begitu komisi informasi Inggris selesai melakukan investigasi, pihaknya segera melanjutkan langkah hukum, baik terhadap Cambridge Analytica maupun Kogan.

Anggota komisi I Evita Nursanty mengungkapkan, Facebook tidak bisa begitu saja lepas tangan dan menimpakan semua kesalahan kepada pihak ketiga. Harus ada tanggung jawab dalam menjalin kerja sama dengan aplikasi pihak ketiga.

Senada, Ketua Komisi I Abdul Kharis Almasyhari juga menyimpulkan bahwa Facebook tidak tegas dalam platform policy mereka. Dia meminta Facebook segera menyetorkan hasil audit internal untuk mengetahui apa saja yang terjadi pada jutaan data pengguna tersebut.

“Saya tahu Facebook sudah sering minta maaf. Tapi, urusan ini tidak cukup dengan noted dan minta maaf saja,” tandasnya

 

Sumber: radarcirebon.com



Berita Terbaruberita terbaru lainnya

Gerbang Tol Kertasari Tegal Macet

access_time13 Juni 2018 12:43:56

Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Makin Banyak Anak, Benarkah Gigi Ibu Jadi Lebih Sedikit?

access_time 13 Juni 2018 12:26:13 folder_open 39

Wow, Peneliti Sebut Daun Teh Bermanfaat untuk Cegah Kanker Paru

access_time 28 Mei 2018 14:24:51 folder_open 58

Tren Unik Tanam Perhiasan di Bola Mata

access_time 28 Mei 2018 14:02:44 folder_open 67




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu