Home / News / Finance / Apa Bedanya Ekonomi 2018 dengan Krisis 1998? Ini Kata Sri Mulyani

Apa Bedanya Ekonomi 2018 dengan Krisis 1998? Ini Kata Sri Mulyani


Apa Bedanya Ekonomi 2018 dengan Krisis 1998? Ini Kata Sri Mulyani

Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpandangan bahwa ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dengan kondisi 20 tahun lalu atau pada saat krisis ekonomi 1997-1998.

Sri Mulyani menyebut perbedaan yang paling terlihat adalah saat ini pemerintah memiliki Bank Indonesia (BI) yang independen dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi lembaga pengawas sektor keuangan independen.

"Berbeda sama sekali. Pertama, dari sisi peraturan perundang-undangan di mana 20 tahun lalu sebelum krisis BI tidak independen. Kita tidak memiliki apa yang disebut institusi pengawas sektor keuangan yang independen," kata Sri Mulyani usai acara sosialisasi PP Nomor 14 Tahun 2018 di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (22/5/2018).

Perbedaan kondisi perekonomian juga terlihat dari pemerintah mengelola APBN. Menurut Sri Mulyani, saat ini pemerintah menganut defisit anggaran dan hal itu tercatat secara transparan. Sedangkan pada saat krisis ekonomi, defisit APBN tidak bisa diketahui.

"Jadi, sudah ada UU Keuangan Negara yang memberikan rambu-rambu mengenai berapa jumlah defisit dan utang. Kita juga punya KPK. Jadi, dari sisi setting dari 20 tahun lalu, banyak yang bisa dilakukan penyelewengan atau tata kelola yang buruk, bisa berjalan secara luas," ujar dia.

Lebih lanjut Sri Mulyani mengungkapkan, BI menjadi otoritas moneter yang memiliki tugas menjaga stabilitas nilai tukar rupiah maupun inflasi. BI memiliki bauran kebijakan yang pada saat krisis ekonomi tidak dimiliki, begitu juga dengan OJK.

"Tata kelola makin transparan, banyak institusi ini (bank) sudah listed company, mereka melakukan publikasi dari keseluruhan neracanya. Dari sisi itu sudah berbeda sekali. Exchange rate kita juga fleksibel, artinya memang saat ekonomi, rupiah kita bisa menguat. Kalau sedang kena imbas seperti yang terjadi saat ini, maka sama seperti banyak mata uang lain, akan mengalami tekanan atau koreksi," tutur dia.

"Namun, koreksi mata uang kita walaupun fleksibel, masih dalam range yang tetap stabil untuk jangka menengah-panjang. Ada range yang kami jaga supaya kami, pemerintah, BI, OJK bisa memastikan sektor keuangan tetap sehat, Indonesia bisa tumbuh namun sustainable, dan BI bisa melakukan stabilisasi apabila diperlukan. Ini mekanisme yang berbeda dari 20 tahun lalu," tutup dia.

 

Sumber: detik.com



Berita Terbaruberita terbaru lainnya

Gerbang Tol Kertasari Tegal Macet

access_time13 Juni 2018 12:43:56

Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

Makin Banyak Anak, Benarkah Gigi Ibu Jadi Lebih Sedikit?

access_time 13 Juni 2018 12:26:13 folder_open 39

Wow, Peneliti Sebut Daun Teh Bermanfaat untuk Cegah Kanker Paru

access_time 28 Mei 2018 14:24:51 folder_open 58

Tren Unik Tanam Perhiasan di Bola Mata

access_time 28 Mei 2018 14:02:44 folder_open 64




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu