Home / News / Nasional / Cawapres dari Ulama Jadi Strategi Imbangi Tingkat Kesalehan Capres

Cawapres dari Ulama Jadi Strategi Imbangi Tingkat Kesalehan Capres


Cawapres dari Ulama Jadi Strategi Imbangi Tingkat Kesalehan Capres

Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan wacana calon wakil presiden (cawapres) dari kalangan ulama adalah tren di Pemilihan Presiden 2019. Tren itu muncul karena isu agama yang menarik masyarakat dan kandidat capres dianggap belum cukup mencitrakan diri sebagai sosok yang religius.

"Ya ini memang strategi ya, memang (strategi yang) harus diikuti jadinya. Karena begini, yang pertama kalau dari hasil survei itu (diskusi) kedai KOPI, terutama agama ini menjadi pertimbangan," kata Hendri, Rabu (8/8/2018).

"Kedua, pada saat ditanya persepsi publik tentang Prabowo dan Jokowi, itu dua-duanya dianggap belum memiliki tingkat relijiusitas yang tinggi, dianggapnya tingkat salehnya belum tinggi," ujar Hendri.

Menurut Hendri, sosok cawapres dari ulama menjadi strategi politik kandidat capres untuk menutup anggapan tersebut. "Alasannya biar seimbang," sambung Hendri.

Hendri berharap strategi ini menjadi pilihan tepat bagi para kandidat capres. Pandangan Hendri, kemunculan tren cawapres dari kalangan ulama adalah hal yang sah-sah saja karena setiap momen pilpres memiliki warna sendiri.

"Nah (cawapres dari kalangan ulama) ini mudah-mudahan biar bisa menjadi strategi yang tepat. Tapi memang tren pilpres itu kan berbeda-beda tiap tahun. Zamannya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) beda, zamannya Mega (Megawati Soekarnoputri) beda, zamannya jokowi juga beda. Jokowi 2014 sama yang sekarang kan juga beda," tutur dia.

 

Sumber: detik.com



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

3 Zat Kimia yang Membuat Makanan Bisa Menyala Saat Dibakar

access_time 30 September 2018 16:56:01 folder_open 51

Sakit Tengorokan? Racik 5 Minuman Herbal Ini untuk Mengatasinya

access_time 08 Agustus 2018 09:18:26 folder_open 163

Peegasm, Kenikmatan Setelah Menahan Pipis yang Ternyata Berbahaya

access_time 08 Agustus 2018 09:06:09 folder_open 261




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu