Home / News / Finance / Fakta-Fakta Serbuan TKA China di Morowali

Fakta-Fakta Serbuan TKA China di Morowali


Fakta-Fakta Serbuan TKA China di Morowali

Morowali - Kabar tentang serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia masih menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Morowali, Sulawesi Tengah dikabarkan menjadi salah satu tempat bersarangnya TKA khususnya dari China.

Di wilayah terpencil ini memang ada kawasan industri terpadu khusus nikel yang bernama Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kawasan industri ini sangat besar.

Bayangkan saja produk dari berupa nikel kemudian dimurnikan menjadi Nickle Pig Iron (NIP) atau feronikel, lalu diolah menjadi gulungan plat panas hingga dingin, bahkan sampai menjadi stainless steel diproses dalam satu kawasan.

Sekitar 16 perusahaan di dalamnya yang kebanyakan merupakan investor China. Lalu benarkah ada ratusan ribu TKA China ilegal di sana? benarkah tenaga kerja Indonesia diperlakukan tidak adil?

Jumlah TKA China capai 3.000-an

CEO IMIP Alexander Barus mengakui, memang ada TKA di wilayah industri nikel terbesar itu, khususnya dari China. Sebab baik investor, hingga teknologi hilir berasal dari China.

"Awalnya kita PT SMI ini harus bangun smelter, Indonesia ini belum pernah membangun smelter. Jadi kami datangkan dari China. Ya gini kalau kita beli AC, kan yang pasangin AC itu yang jual, masa kita," tuturnya di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Alex menerangkan hingga hari ini total TKA di IMIP mencapai 3.121 orang. TKA China itu tersebar dari 16 perusahaan yang ada di kawasan industri tersebut, termasuk di IMIP selaku pengelola kawasan.

"Di IMIP sendiri TKA-nya hanya 18 orang. Sisanya terbagi dari 16 perusahaan itu," tambahnya.

Paling banyak perusahaan yang memakai TKA China adalah PT Indonesia Guang Ching Nickel & Stainless Steel Industry sebanyak 833 orang. Lalu ada PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebanyak 597 orang dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel sebanyak 556 orang.

"Untuk SMI itu banyak juga karena baru bangun smelter lagi, jadi banyak TKA untuk pembangunan itu," tambahnya.

TKA China itu juga sebenarnya terdiri dari 2 jenis, yakni TKA yang bekerja sebagai kontraktor dan yang bekerja dalam bidang operasional. Pihaknya menjadi untuk TKA kontraktor akan kembali ke negaranya ketika pekerjaan sudah selesai.

"Untuk yang dibidang operasional, juga sedikit demi sedikit kami gantikan dengan TKI. Makanya kami tandemkan setiap 1 operator China ada 1 TKI biar mereka bisa menyerap pengetahuan mereka," tambahnya.

Asal Muasal TKA China

Meski begitu, tetap saja kawasan IMIP ini mempekerjakan TKA China. Lalu bagaimana bisa?

CEO IMIP Alexander Barus menerangkan, pengembangan kawasan ini mulanya merupakan tambang nikel seluas 47 ribu hektar yang dikembangkan oleh PT Sulawesi Mining Investment (SMI). Perusahaan itu didirikan oleh Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd yang bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama.

Lalu pada 2013 SMI berencana membangun pabrik pemurnian (smeleter) nikel. Sebab pada 2009 pemerintah memberlakukan kewajiban pembangunan smelter di 2014, jika tidak maka dilarang untuk ekspor bahan mentah.

"Nah sayangnya di Indonesia belum pernah ada yang bangun smelter. Bagaimana bisa bangun, lihat barangnya saja enggak pernah. Akhirnya kita kirim 14 orang dulu ke China untuk training tahap awal," kata Alex.

Akhirnya Alex meminta investor China untuk membangun smelter dengan produk tahap awal hilirisasi, yakni Nickle Pig Iron (NIP) atau feronikel. Proyek itu menggunakan Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) yang telah digunakan oleh pihak investor Tiongkok yaitu Tsingshan Steel Group.

Alhasil, smelter pertama yang didirikan oleh SMI menggunakan kontraktor China berikut juga dengan pekerjanya. Lantaran teknologi yang belum dipahami, maka beberapa operator dan teknisi juga diisi oleh TKA China.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik SMI juga membangun PLTU dengan kapasitas 2x65 MW. Mesin dari PLTU itu juga dibeli dari China dengan alasan harga yang lebih murah. Saat pemasangan pun dilakulan juga oleh TKA China. Total investasinya saat itu mencapai US$ 637 juta.

"Memang kalau untuk PLTU itu kita enggak perlu bergantung ke China, karena kita sudah berpengalaman. Tapi gini kalau kita beli AC yang pasang siapa? ya yang jual kan," terang Alex.

Lalu pada 3 Oktober 2013 juga dilakukan penandatanganan MoU antara Presiden China Xi Jinping dengan pemerintah Indonesia tentang pembangunan industri hilir di Morowali. Ketika pembangunan smelter SMI berhasil, bahyak investor China yang tertarik untuk masuk ke kawasan itu.

Saat ini di kawasan IMIP ada sebanyak 16 perusahaan. Mereka terdiri dari perusahaan-perusahaan hilirisasi NPI, hingga anak perusahaan IMIP yang bergerak dalam bidang pengelolaan pelabuhan hingga jasa keamanan.

Benarkah Tenaga Kerja Lokal diperlakukan Tidak Adil?

Merebak isu bahwa tenaga kerja lokal diperlakukan tak adil. Mulai dari jatah makan hingga besaran gaji yang tidak seimbang menjadi isu liar.
CEO IMIP Alexander Barus menegaskan, pihaknya selaku pengelola kawasan industri dan manajemen karyawan menyediakan anggaran makanan perkepal setiap pekerja sama , yakni Rp 18 ribu per sekali makan untuk 1 pekerja.

"Jadi biaya per porsi untuk makan merrka sama, mau itu dia orang lokal atau China semuanya sama," tuturnya.

Namun dia mengakui memang memisahkan antara dapur masak untuk TKA dan lokal. Alasannya masakan yang dimakan oleh TKA kebanyakan makanan haram bagi kaum muslim.

"Oleh karena itu menunya mereka berbeda. Itu sebabnya dapurnya dipisahkan. Lagi pula untuk dapur pekerja lokal yang baru sekarang jauh lebih bagus," tambahnya.

Untuk bahan makanan Alex menepis bahwa makanan TKA bahan bakunya jauh lebih berkualitas lantaran diimpor dari China. Isu itu juga ditepis oleh Alex.

"Kalau saya bawa bahan makanan dari China itu ongkosnya saja berapa, cuma untuk mie, beras. Jadi logikanya ya tidak mungkin lah," tambahnya.

Sedangkan untuk gaji dia memastikan bahwa setiap pekerja di kawasan IMIP mendapatkan gaji yang layak. Dia juga yakin gaji yang diterima pekerja di IMIP lebih tinggi dari ketentuan daerah.

"Gaji teman-teman di sini saya buat mengadopsi dari Chevron, Adaro dan Telkomsel, kami kombinasikan. Inui tahun ke 4 belum pernah ada yang protes gaji kekecilan," ujar Alex.

Namun para TKA China di IMIP biasanya bekerja lembur saat akhir pekan. Sebab mereka juga tinggal di mes yang letaknya di dalam kawasan industri. Apalagi mereka dibatasi untuk keluar dari wilayah industri.

"Mereka Sabtu dan Minggu lembur, jadi mereka terima bisa lebih besar. Tapi tidak terlalu jauh bedanya hanya sekitar 30%," tambahnya.

Selain itu seperti orang yang bekerja di luar negeri pada umumnya, mereka mendapatkan tunjangan kejauhan. Tunjangan itu diberikan oleh pihak perusahan China yang mengirimnya.

IMIP juga sebenarnya dibebani dengan menanggung biaya kepulangan mereka negera asalnya. Biasanya TKA China di IMIP pulang setiap 3 bulan.

"Ada juga family visit untuk mereka. Pekerja Indonesia juga dapat itu, tapi kan paling jauh dari Medan," kata Alex.

Sementara HR Advisor yang juga mantan direktur IMIP, Zulkifli Arman mengungkapkan, rata-rata pemasukan yang dibawa pulang pekerja lokal untuk kelas paling bawah di IMIP sebesar Rp 4 juta. Sementara untuk kelas operator menerima sekitar Rp 8 juta per bulannya.

TKA China di Morowali dilarang Keluar dari Kawasan Industri

IMIP juga menyediakan mess untuk pekerjanya di dalam kawasan industri. Total ada sekitar 12 bangunan yang diperuntukan bukan hanya untuk TKA China tapi juga tenaga kerja lokal yang berasal dari luar Morowali.

Selain 12 bangunan itu, kawasan mess di IMIP juga dilengkapi dengan fasilitas olah raga, seperti lapangan voli, badminton, futsal, hingga taman untuk tempat bersantai.

Untuk fasilitas kamar terdapat 1 kamar mandi, televisi dan pengkondisi udara (AC). Kapasitas untuk 1 kamar tergantung jabatan, untuk level pekerja paling bawah 1 ruang ditempati 3-4 orang.

Manajer Sumber Daya Manusia IMIP Achmanto Mendatu mengatakan, perusahaan membatasi pergerakan seluruh TKA Asing itu. Mereka dilarang untuk keluar area tambang.

"Kalau pun mau keluar ya perlu izin khusus," ucapnya

Perusahaan sengaja membatasi ruang gerak TKA China, tujuannya agar menghindari konflik sosial dengan masyarakat setempat. Namun dirinnya menegaskan bahwa seluruh TKA China itu legal lengkap dengan perizinannya.

"Apa lagi sedang ramai isu miring. Takutnya mereka belanja keluar terus muncul-muncul isu miring lagi," tambahnya.

Meski begitu, perusahaan juga telah menyediakan beberapa fasilitas untuk TKA China. Seperti mess, kantin, hingga fasilitas olahraga.

Menurut pemantauan detikFinance fasilitas olahraga terdiri dari lapangan tenis, badminton, futsal, basket hingga taman untuk bersantai. IMIP juga tengah membangun ruang karaoke, gym dan biliard. Untuk ruangan kamar juga dilengkapi televisi dan pendingin ruangan.

Perbedaan Kantin TKA China dan Lokal

Redaksi bersama media lainnya berkesempatan untuk melihat dapur dan kantin di kawasan industri ini. Awak media pertama kali diajak melihat kondisi kantin dan dapur TKA China.

Saat disambangi awak media kondisi kantin TKA sedang sepi, sebab bukan waktu istirahat makan siang. Kondisi kantin TKA cukup rapih, terdapat bangku dan meja solid.

Ada juga loket-loket untuk mengambil makanan. Di loket itu juga tertera menu makanan.

Dari kantin, lanjut ke dapur. Di bagian dapur ada sekitar 120 orang karyawan yang menyiapkan makanan. Seluruhnya merupakan tenaga kerja lokal, hanya ada 5 TKA asing yang bekerja sebagai koki.

"Karena kami bisa memasak sesuai dengan seleranya TKA China," kata Ketua koki kantin TKA Chai Ming.

Untuk bahan makannya sendiri, Chai Ming mengaku seluruhnya berasal dari wilayah sekitar seperti Kendari, Morowali dan wilayah sekitar lainnya. Namun detikFinance melihat ada beberapa bahan pelengkap yang sepertinya bukan berasal dari Indonesia. Sebab tidak ada keterangan di produk dalam bahasa Indonesia.

"Ya kami berusaha memberikan makanan yang sesuai selera mekera agar mereka betah," tuturnya.

Sementara untuk kantin tenaga kerja lokal terpantau ada beberapa pekerja yang sedan makan. Kondisi dan fasilitasnya sama dengan kantin TKA, seperti kursi dan mejanya.

Namun yang berbeda tidak ada loket khusus untuk mengambil makanan. Kantin juga terlihat masih lowong, meski kapasitasnya sekitar 3.000 sampai 5.000 orang.

Namun di sisi samping kantin yang terhubung langsung dengan dapur ternyata terlihat antrian para pekerja. Mereka ternyata mengantri untuk ambil makanan dalam jumlah banyak yang kemudian dikirim ke pekerja-pekerja yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

Terlihat pekerja kantin yang tengah memasukan makanan ke dalam tempat makan. Kebetulan menu hari ini terdiri dari ikam sayur dan buah.

"Jadi banyak pekerja yang harus makan di tempatnya karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya jadi kita delivery," kata Ketua koki kantin pekerja lokal Ii Masuri.

TKA China ini sudah Bekerja selama 7 tahun di Morowali

Perusahaan mengaku, kebanyakan dari pekerja China di IMIP merupakan pekerja kontraktor. Sebab untuk membangun pabrik pemurnian (smelter) nikel di wilayah ini memang menggunakan teknologi dan investor dari China.

Jika pekerjaan konstruksi sudah selesai, mereka kembali ke negaranya. Meskipun ada beberapa TKA China untuk posisi-posisi tertentu yang membutuhkan keahlian khusus.

Namun ada beberapa TKA adal China yang bekerja cukup lama di sini. Seperti Li Qiang yang mengaku sudah bekerja selama hampir 7 tahun.

"Saya kerja di sini sejak semua bangunan ini belum ada. Saya termasuk yang ikut membangun dulu," akunya

Li Qiang bahkan sudah bisa berbahasa Indonesia, meskipun masih terbatah-batah. Bahkan dia sudah mendapatkan nama Indonesia yang diberikan oleh teman-temannya yakni Arifin.

"Saya tidak tahu artinya, mereka panggil saya Arifin. Saya banyak teman disini," akunya.

Kini Li Qiang sudah menjabat sebagai manajer pengembangan kawasan. Dia mengaku betah bekerja di Morowali lantaran merasa cocok dengan cuaca dan keramahan teman-teman kerjanyan

Meski begitu, dia mengaku rutin pulang ke negaranya setiap 3 bulan sekali. Selama 2 minggu biasanya dia berada di negaranya untuk melepas rindu dengan istri dan anaknya.

Sebagai TKA China yang bekerja paling lama, Li Qiang meluhat jumlah TKA China di kawasan industri itu semakin berkurang. Selain faktor kontrak kerja, banyak juga TKA China yang ternyata tidak betah.

"Banyak orang China juga yang tidak betah di sini, ingin pulang. Jadi hanya tugas saja, selesai kontrak ya pulang, karena jauh dari keluarga," tuturnya.

 

Sumber: detik.com



Artikel Terbaruartikel terbaru lainnya

3 Zat Kimia yang Membuat Makanan Bisa Menyala Saat Dibakar

access_time 30 September 2018 16:56:01 folder_open 51

Sakit Tengorokan? Racik 5 Minuman Herbal Ini untuk Mengatasinya

access_time 08 Agustus 2018 09:18:26 folder_open 163

Peegasm, Kenikmatan Setelah Menahan Pipis yang Ternyata Berbahaya

access_time 08 Agustus 2018 09:06:09 folder_open 261




Login disini untuk memberikan komentar

 

comment0 Responses
  1. Belum ada komentar

menu
menu